Selasa, 16 Maret 2010

Tahsinul Qur'an

Tahsinul Quran

Al Quran sebagai landasan hidup manusia mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab lain. Beberapa keistimewaan itu antara lain:
Keistimewaan Tilawah. Artinya al Quran adalah sebuah kitab yang harus dibaca bahkan dianjurkan untuk dijadikan bacaan harian. Membacanya dinilai oleh Allah sebagai ibadah. Pahala yang diberikan oleh Allah bukan dihitung perkata atau perayat, namun per huruf. RasuluLLah SAW menjelaskan kepada kita, "Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf."

Keistimewaan Tadabbur. Artinya al Quran akan benar-benar menjadi ruh (penggerak) bagi kemajuan kehidupan manusia manakala selalu dibaca dan ditadabburkan makna yang terkandung dalam setiap ayat-ayatnya. Allah SWT berfirman, "Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu sebuah Ruh (al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al Kitab itu dan tidak pula mengerahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al Quran itu cahaya yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. 42:52)

Keistimewaan Hifdz (Hafalan). artinya al Quran selain dibaca atau direnungkan juga perlu di hafal. dipindahkan dari tulisan ke dalam dada. Karena hal ini merupakan ciri khas orang-orang yang diberi ilmu, juga sebagai tolok ukur keimanan dalam hati seseorang. Allah SWT berfirman, "Sebenarnya al Quran itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada-dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidaklah mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang dhalim." (QS. 29:49)


Ilmu Tajwid. Lafadz tajwid menurut bahasa artnya membaguskan. Sedangkan menurut istilah adalah "Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya dengan membeikan haknya dan mustahiknya."

Yang dimaksud dengan hak huruf adalah sifat asli yang selalu bersamanya, seperti sifat al-jahr, isti'la, istifal, dlsb. Sedangkan yang dimaksud dengan mustahik huruf adalah sifat yang namak sewaktu-waktu seperti tafkhin, tarqiq, dlsb.

Untuk mempelajari hak hal tersebut di atas, Dept. Tarbiyah akan memfasilitasi apabila ada komunitas yang ingin belajar Tahsin. Program belajar membaca Al Quran dengan baik dan benar yang dilakukan melalui telpon atau internet. Setiap kelompok akan terdiri dari maksimal 6 orang yang mempunyai tingkat pengetahuan membaca Al Quran relatif sama. Waktu belajar akan di tentukan oleh setiap kelompok. Persyaratan peserta adalah:
Telah mengenal dan dapat membaca huruf Al-qur’an (hijaiyah)
Tidak malu-malu dalam tilawah Al-Qur’an
Sangat diharapkan menggunakan qur’an cetakan Madinah, untuk mempermudah pembimbingan dan pembaca itu sendiri.

Pendaftaran dapat dilakukan dgn cara sebagai berikut:
Peminat dapat mengirim email ke: Departemen Tarbiyah [tekan disini] dengan mencantumkan nama, alamat, dan email lengkap dengan nomor telpon yg dapat dihubungi.
Setiap group terdiri dari 5-6 orang
Waktu akan dibicarakan bila telah ada pendaftar dengan jumlah tertentu.

Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca Al Quran secara Tartil

Pernahkah anda mendapatkan murobbi yang bagus dalam menyampaikan materi tapi ketika membaca Al Quran belum lancar dan banyak salahnya? Bagaimana kesan anda terhadap murobbi yang seperti itu?

Jujur, saya pernah mengalaminya dan kesan yang timbul dalam hati saya sangat tidak nyaman mendapat murobbi seperti itu. Saya menceritakan hal ini ke murobbi saya sebelumnya, dan saya mendapatkan jawaban yang cukup menenangkan.


Intinya terletak pada husnuzhon, beliau adalah orang yang sudah lama berkiprah dalam dunia dakwah. Bisa jadi, lembaga tahsin pada masa itu belum sebanyak sekarang. Bisa jadi, karena sibuknya dalam berdakwah beliau belum sempat belajar membaca Al Quran secara tartil. Bisa jadi juga beliau belum lancar membaca Al Quran tetapi memiliki keistimewaan ibadah yang lain.


Saya memandang hal ini dari dua sisi, pertama dalam memandang orang lain seperti murobbi saya tersebut. Memandang beliau dengan kacamata husnuzhon, tanpa perlu mencela kekurangan yang beliau miliki. Tetap menghormati beliau sebagai seorang murobbi yang ikhlas dalam membina saya, karena kekurangan beliau bukan dari akhlak tapi keahlian/ilmu.


Yang kedua, dalam menjadikan koreksi diri pribadi saya sebagai murobbi. Untuk terus belajar memperbaiki diri dari segi ilmu, amal dan keikhlasan. Membaca Al Quran secara tartil merupakan keahlian wajib bagi seorang murobbi. Tanpa keahlian ini, para binaan bisa jadi meremehkan dan kurang bersimpati. Karenanya saya berangan-angan semua murobbi memiliki kemampuan membaca Al Quran secara tartil.


Ada juga seorang aktivis yang mencari pembenaran akan kelemahannya dalam tilawah satu juz per hari dengan mengatakan yang terpenting kita memahami apa yang kita baca, meskipun sedikit dan kurang lancar bacaannya.


Menurut saya, akan lebih baik jika kita mengakui kekurangan kita dalam tilawah, kemudian berusaha memperbaiki kekurangan itu daripada mencari pembenaran dengan segala macam dalih.


Memandang orang lain dengan husnuzhon itu wajib, tapi untuk memandang diri sendiri sebaiknya penuh dengan koreksi menuju perbaikan. Inilah keadilan dalam menilai sesuatu, jangan terbalik.


Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam meningkatkan kemampuan tilawah kurang lebih sebagai berikut:

Memahami pentingnya membaca Al Quran secara tartil. Imam Ibnu Al Jazari mengatakan, “Al Quran diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah saw melalui malaikat Jibril dengan tajwid. Maka barangsiapa membacanya tanpa tajwid, ia berdosa.”

Menghadirkan niat untuk memiliki kemampuan tilawah yang baik. Jika ada ustadz yang mengajarkan anda sekali-kali jalan ke mall untuk memperbaiki selera, mengkhayalkan punya rumah mewah dan pesawat jet pribadi, pernahkah anda jalan-jalan ke pesantren tahfizh melihat anak-anak kecil sedang mengulang-ulang hafalan At Taubah nya? Pernahkah anda berkhayal suatu hari nanti, tiga tahun lagi, lima tahun lagi anda sudah hafal surat Al Baqoroh?

Garbage In, Garbage Out. Apa yang masuk ke kepala anda, itulah yang akan keluar. Istilah itu tepat dianalogikan dengan Al Quran. Anda hafal surat Al Fatihah karena sudah ratusan kali mendengarkannya. Jika yang anda dengarkan panjang pendeknya salah, maka anda pun akan salah mengucapkannya. Itulah kenapa banyak orang sering tertukar menyebut maliki (dalam surat An Naas) dengan maaliki (dalam surat Al Faatihah). Maka, sering mendengarkan kaset murottal itu sangat baik untuk membiasakan otak anda dengan panjang pendek huruf Al Quran. Dengarkanlah kaset atau mp3 Syeikh Ali Basfar, Syeikh Musyari Rasyid, misalnya. Hal ini juga dapat membantu anda dalam menghafalkan Al Quran.

Memiliki target dan waktu tilawah khusus. Luangkan waktu sejam dari 24 jam dalam sehari (yang diberikan Allah kepada anda) untuk tilawah, misalnya ba’da shubuh 15 menit, ba’da zuhur 15 menit, ba’da Ashr 15 menit, dan ba’da maghrib 15 menit.

Belajar di Lembaga Tahsin. Luangkan waktu sepekan sekali untuk belajar tahsinul quran. Carilah lembaga-lembaga tahsin terdekat. Kalau di Jakarta misalnya, ada Al Hikmah, Al Manar, Utsmani dan ada juga Muntada Ahlil Quran.

Membuat program kelompok. Belajar berjamaah lebih baik dibanding belajar sendirian, jika suatu saat anda kurang semangat, ada teman yang menyemangati. Buatlah program halaqoh tahsin Al Quran, bisa juga mengundang guru tahsin untuk khusus mengajarkan kelompok anda secara rutin sepekan atau dua pekan sekali.

Jangan lupa berdoa pada Allah, meminta diberi kemudahan dan kenikmatan dalam tilawah secara tartil, dijadikan hamba Allah yang termasuk keluarga Nya dan orang-orang yang diistimewakan oleh Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar