Selasa, 16 Maret 2010

Sejarah Filsafat

SEJARAH FILSAFAT KLASIK-Filsafat Yunani

SEJARAH FILSAFAT KLASIK
1. Filsafat Yunani

Para sarjana filsafat mengatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Karena itu tidak ada pengantar filsafat yang lebih ideal dari pada study perkembangan pemikiran filsafat di negeri Yunani. Alfred Whitehead mengatakan tentang Plato: "All Western phylosophy is but a series of footnotes to Plato". Pada Plato dan filsafat Yunani umumnya dijumpai problem filsafat yang masih dipersoalkan sampai hari ini. Tema-tema filsafat Yunani seperti ada, menjadi, substansi, ruang, waktu, kebenaran, jiwa, pengenalan, Allah dan dunia merupakan tema-tema bagi filsafat seluruhnya.

Filsuf- Filsuf Pertama

Ada tiga filsuf dari kota Miletos yaitu Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Ketiganya secara khusus menaruh perhatian pada alam dan kejadian-kejadian alamiah, terutama tertarik pada adanya perubahan yang terus menerus di alam. Mereka mencari suatu asas atau prinsip yang tetap tinggal sama di belakang perubahan-perubahan yang tak henti-hentinya itu. Thales mengatakan bahwa prinsip itu adalah air, Anaximandros berpendapat to apeiron atau yang tak terbatas sedangkan Anaximenes menunjuk udara.

Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak di atas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama terhadap semua badan yang lain. Sedangkan mengenai kehidupan bahwa semua makhluk hidup berasal dari air dan bentuk hidup yang pertama adalah ikan. Dan manusia pertama tumbuh dalam perut ikan. Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. Udara di alam semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan pernapasan di dalam tubuh manusia.

Filosof berikutnya yang perlu diperkenalkan adalah Pythagoras. Ajaran-ajarannya yang pokok adalah pertama dikatakan bahwa jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian manusia, jiwa pindah ke dalam hewan, dan setelah hewan itu mati jiwa itu pindah lagi dan seterusnya. Tetapi dengan mensucikan dirinya, jiwa dapat selamat dari reinkarnasi itu. Kedua dari penemuannya terhadap interval-interval utama dari tangga nada yang diekspresikan dengan perbandingan dengan bilangan-bilangan, Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikusai oleh hukum matematis. Bahkan katanya segala-galanya adalah bilangan. Ketiga mengenai kosmos, Pythagoras menyatakan untuk pertama kalinya, bahwa jagat raya bukanlah bumi melainkan Hestia (Api), sebagaimana perapian merupakan pusat dari sebuah rumah.


Pada jaman Pythagoras ada Herakleitos Di kota Ephesos dan menyatakan bahwa api sebagai dasar segala sesuatu. Api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja berubah menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa di dalam dunia alamiah tidak sesuatupun yang tetap. Segala sesuatu yang ada sedang menjadi. Pernyataannya yang masyhur "Pantarhei kai uden menei" yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap. Filosof pertama yang disebut sebagai peletak dasar metafisika adalah Parmenides. Parmenides berpendapat bahwa yang ada ada, yang tidak ada tidak ada. Konsekuensi dari pernyataan ini adalah yang ada 1) satu dan tidak terbagi, 2) kekal, tidak mungkin ada perubahan, 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya, 4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada gerak sebagaimana klaim Herakleitos.

Para filsuf tersebut dikenal sebagai filsuf monisme yaitu pendirian bahwa realitas seluruhnya bersifat satu karena terdiri dari satu unsur saja. Para Filsuf berikut ini dikenal sebagai filsuf pluralis, karena pandangannya yang menyatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur. Empedokles menyatakan bahwa realitas terdiri dari empat rizomata (akar) yaitu api, udara, tanah dan air. Perubahan-perubahan yang terjadi di alam dikendalikan oleh dua prinsip yaitu cinta (Philotes) dan benci (Neikos). Empedokles juga menerangkan bahwa pengenalan (manusia) berdasarkan prinsip yang sama mengenal yang sama. Pluralis yang berikutnya adalah Anaxagoras, yang mengatakan bahwa realitas adalah terdiri dari sejumlah tak terhingga spermata (benih). Berbeda dari Empedokles yang mengatakan bahwa setiap unsur hanya memiliki kualitasnya sendiri seperti api adalah panas dan air adalah basah, Anaxagoras mengatakan bahwa segalanya terdapat dalam segalanya. Karena itu rambut dan kuku bisa tumbuh dari daging.

Perubahan yang membuat benih-benih menjadi kosmos hanya berupa satu prinsip yaitu Nus yang berarti roh atau rasio. Nus tidak tercampur dalam benih-benih dan Nus mengenal serta mengusai segala sesuatu. Karena itu, Anaxagoras dikatakan sebagai filsuf pertama yang membedakan antara "yang ruhani" dan "yang jasmani". Pluralis Leukippos dan Demokritos juga disebut sebagai filsuf atomis. Atomisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang tak dapat dibagi-bagi lagi, karenanya unsur-unsur terakhir ini disebut atomos. Lebih lanjut dikatakan bahwa atom-atom dibedakan melalui tiga cara: (seperti A dan N), urutannya (seperti AN dan NA) dan posisinya (seperti N dan Z). Jumlah atom tidak berhingga dan tidak mempunyai kualitas, sebagaimana pandangan Parmenides atom-atom tidak dijadikan dan kekal.

Tetapi Leukippos dan Demokritos menerima ruang kosong sehingga memungkinkan adanya gerak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari dua hal: yang penuh yaitu atom-atom dan yang kosong. Menurut Demokritos jiwa juga terdiri dari atom-atom. Menurutnya proses pengenalan manusia tidak lain sebagai interaksi antar atom. Setiap benda mengeluarkan eidola (gambaran-gambaran kecil yang terdiri dari atom-atom dan berbentuk sama seperti benda itu). Eidola ini masuk ke dalam panca indra dan disalurkan kedalam jiwa yang juga terdiri dari atom-atom eidola. Kualitas-kualitas yang manis, panas, dingin dan sebagainya, semua hanya berkuantitatif belaka. Atom jiwa bersentuhan dengan atom licin menyebabkan rasa manis, persentuhan dengan atom kesat menimbulkan rasa pahit sedangkan sentuhan dengan atom berkecepatan tinggi menyebabkan rasa panas, dan seterusnya.

Filsafat Islam dewasa ini menjadi domain wacana dan tema diskusi yang kuat di kalangan pemikir (pemerhati filsafat) di Timur maupun di Barat. Setidaknya hal ini terjadi pada abad ke-19 hingga kini.

Sebut saja orang-orang seperti Adam Mez, Henry Corbin, Goldziher, Hitti, HAR. Gibb, atau Seyyed Hossein Nasr, Fazlur Rahman, Joel Kraemer, dan belakangan Oliver Leaman serta beberapa ahli filsafat muslim yang ada di Eropa lainnya ikut mengkaji filsafat Islam secara intens.

Adapun sebelumnya, wacana filsafat Islam seringkali tidak terjamah bahkan mungkin hampir ditiadakan baik itu di kalangan pemikir Barat, maupun dalam sebagian tradisi Islam sendiri.


Filsafat Islam dipandang sebagai sebuah objek yang asing dan serangkaian ilmu import yang harus dilawan dan diperlakukan sebagai anak yatim oleh para sarjana Barat terutama para sejarawan kuno.

Referensi yang selama ini dirujuk oleh para sarjana Barat ketika menghubungkan antara Kebangkitan (Renaissance) di Eropa adalah tradisi keilmuan Yunani yang dikenal dengan zaman logos. Hal ini sangat kuat diyakini terutama dalam cara pandang tentang kehidupan yang dilandasi oleh pemikiran filosofis Yunani. Selalu saja rujukan awal yang dicari adalah para pemikir seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Memang hal ini bukanlah sebuah kesalahan fatal. Namun ketika hal tersebut tidak pernah dikaitkan dengan kejayaan yang pernah diraih oleh Islam –dan kita tahu bahwa Islam sangat banyak menyumbangkan pemikiran dan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, filsafat, sejarah, dan beberapa bidang lainnya–, ada keterputusan-sejarah yang pada akhirnya menyebabkan kerancuan-ilmiah dalam memandang filsafat secara umum terutama dalam filsafat Barat pasca Renaissance. Karena pada dasarnya ada kotinuitas-historis yang tidak bisa kita abaikan.

Ketika Islam mengalami kejayaan peradaban pada abad ke-9 hingga abad ke-11, dunia Islam sendiri mengakui adanya andil besar gelombang helenisme yang lebih awal dalam mengais kemajuan peradaban. Dalam hal terakhir ini, pengaruh pemikiran Plato, Aristoteles, dan beberapa tokoh lain, coba ditafsirkan oleh para filosof muslim awal seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd.

Hasan Hanafi mencoba mendongkrak asumsi-asumsi salah yang dilancarkan para pengkaji filsafat Islam, baik dari kalangan Islam sendiri, maupun dari kalangan orientalis. Menurut Hanafi, selama ini mereka menduga bahwa para filosof muslim hanya melakukan pembacaan terhadap filsafat Yunani, kemudian mengikuti, melakukan anotasi, dan meringkas karya para filsuf Yunani, serta mencampuradukkannya dengan filsafat Islam, dengan memperburuk pemahaman tentang konsep-konsep filosofis.

Namun saya kira, tradisi Yunani pun tidak bisa lepas dari perkembangan tradisi filsafat Timur-Dekat sebagai pendahulunya. Secara genuin, Joel L. Kraemer menjelaskan bahwa filosof-filosof Yunani pra-Socrates seperti Empedokles, umpamanya, dikatakan telah belajar kepada Luqman “sang filosof” (Luqman al-Hakim) di Syro-Palestina pada masa Nabi Daud; atau Pythagoras diyakini telah belajar fisika dan metafisika pada murid-murid Nabi Sulaiman di Mesir, dan belajar geometri pada orang-orang Mesir. Kemudian para filosof semacam ini membawa tradisi “filosofis” yang mereka serap dari Timur menuju Yunani, untuk dikembangkan lebih lanjut.

Ada khazanah yang cukup berharga dari temuan-temuan pada filsafat Islam yang selama ini tidak diakui oleh filosof dan pemerhati filsafat di Barat. Padahal Islam sendiri memiliki tradisi keilmuan yang begitu kokoh, terutama pada abad pertengahan. Atau mungkin sebenarnya mereka banyak mengambil khazanah pemikiran filsafat Islam, namun mereka enggan untuk mengakui keberadaannya secara ontologis dalam rentetan sejarah peradaban dunia.


MASA DEPAN FILSAFAT ISLAM:
antara cita dan fakta*)

Pengantar
Kata “filsafat Islam” telah lama kita dengar, tetapi apa itu maknanya, lingkup, dan
pandangannya, sepertinya masih harus kita diskusikan. Oleh karena itu dalam paper ini saya
ingin mendiskusikan beberapa topik penting, yaitu: (1) Apa itu filsafat Islam? (2) Peran
filsafat Islam dalam Dunia Modern, (3) Filsafat Islam di Indonesia, dan terakhir (4)
Menyongsong Masa Depan Filsafat Islam. Dengan ini diharapkan pemahamanan kita tentang
filsafat Islam dari sudut cita dan fakta bisa menjadi lebih baik dan bermakna.
1. Apa itu Filsafat Islam?
a. Adakah yang disebut Filsafat Islam?
Dalam buku saya yang berjudul Gerbang Kearifan, saya mendiskusikan beberapa pandangan
sarjana tentang istilah filsafat Islam. Ada yang megatakan bahwa Islam tidak pernah dan
bisa memiliki filsafat yang independen. Adapun filsafat yang dikembangkan oleh para filosof
Muslim adalah pada dasarnya filsafat Yunani, bukan filsafat Islam. Ada lagi yang
mengatakan bahwa nama yang tepat untuk itu adalah filsafat Muslim, karena yang terjadi
adalah filsafat Yunani yang kemudian dipelajari dan dikembangkan oleh para filosof Muslim.
Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang lebih tepat adalah filsafat Arab, dengan alasan
bahwa bahasa yang digunakan dalam karya-karya filosofis mereka adalah bahasa Arab,
sekalipun para penulisnya banyak berasal dari Persia, dan namanama lainnya seperti filsafat
dalam dunia Islam.
Adapun saya sendiri cenderung pada sebutan filsafat Islam (Islamic philosophy), dengan
setidaknya 3 alasan. Pertama: Ketika filsafat Yunani diperkenalkan ke dunia Islam, Islam
telah mengembangkan sistem teologi yang menekankan keesaan Tuhan dan syari’ah, yang
menjadi pedoman bagi siapapun. Begitu dominannya Pandangan tauhid dan syari’ah ini,
sehingga tidak ada suatu sistem apapun, termasuk filsafat, dapat diterima kecuali sesuai
dengan ajaran pokok Islam tersebut (tawhid) dan pandangan syari’ah yang bersandar pada
ajaran tauhid. Oleh karena itu ketika memperkenalkan filsafat Yunani ke dunia Islam, para
filosof Muslim selalu memperhatikan kecocokannya dengan pandangan fundamental Islam
tersebut, sehingga disadari atau tidak, telah terjadi “pengislaman” filsafat oleh para filosof
Muslim.
Kedua, sebagai pemikir Islam, para filosof Muslim adealah pemerhati flsafat asing yang
kritis. Ketika dirasa ada kekurangan yang diderita oleh filsafat Yunani, misalanya, maka
tanpa ragu-ragu mereka mengeritiknya secara mendasar. Misalnya, sekalipun Ibn Sina sering
dikelompokkan sebagai filosof Peripatetik, namun ia tak segan-segan mengertik pandangan
Aristoteles, kalau dirasa tidak cocok dan 1menggantikannnya dengan yang lebih baik.
Beberapa tokoh lainnya seperti Suhrawardi, Umar b. Sahlan al-Sawi dan Ibn Taymiyyah,
juga mengeriktik sistem logika Aristotetles. Sementara al-‘Amiri mengeritik dengan pedas
pandangan Empedokles tentang jiwa, karena dianggap tidak sesuai dengan pandangan
Islam.
Ketiga, adalah adanya perkembangan yang unik dalam filsafat islam, akibat dari interaksi
antara Islam, sebagai agama, dan filsafat Yunani. Akibatnya para filosof Muslim telah
mengembangkan beberapa isu filsfat yang tidak pernah dikembangkan oleh para filosof
Yunani sebelumnya, seperti filsafat kenabian, mikraj dsb.
b. Lingkup Filsafat Islam
Berbeda dengan lingkup filsafat modern, filsafat Islam, sebagaimana yang telah
dikembangkan para filosof agungnya, meliputi bidang-bidang yang sangat luas, seperti
logika, fisika, matematika dan metafisika yang berada di puncaknya. Seorang filosof tidak
akan dikatakan filosof, kalau tidak menguasai seluruh cabang-cabang filosofis yang luas ini.

Ketika Ibn Sina menulis al-Syifa’, yang dipandang sebagai karya utama filsafatnya, ia tidak
hanya menulis tentang metafisika, tetapi juga tentang logika, matematika dan fisika. Dan
ia menulisnya sedeikian lengkap pada setiap bidang tersebut, sehingga kita misalnya
memiliki beberapa jilid tentang logika, meliputi pengantar, kategori, analitika priora,
analitika posteriora, topika, dialektika, retorika, sopistika dan poetika. Sedangkan untuk
matematika, ia menulis beberapa jilid meliputi, aritmatika, geometri, astronomi dan
musik. Untuk fisika, ia juga menulis beberapa jilid yang meliputi bidang kosmologi, seperti
tentang langit, meteorologi, kejadian dan khancuran yang menandai semua benda fisik,
tentang batu-batuan (minerologi), tumbuh-tumbuhan (botani), hewan (zoologi), anatomi,
farmakologi, kedokteran dan psikologi. Dan sebagai puncaknya ia menulis tentang
metafisika (al-‘ilm al-ilahi) yang meliputi bidang ketuhanan, malaikat dan akal-akal, dan
hubungan mereka dengan dunia fisik yang dibahas dalam bidang fisika.
Pembicaraan tentang lingkup filsafat Islam ini perlu dikemukakan, berhubung banyaknya
kesalahpahaman terhadapnya, sehingga filsafat Islam dipahami hanya sejauh ia meliputi
bidang-bidang metafisik. Kebanyakan kita hanya tahu Ibn Sina sebagai filosof, dan hanya
mempelajari doktrin dan metode filsafatnya. Sedangkan Ibn Sina sebagai ahli kedokteran,
ahli fisika, atau dengan kata lain sebagai saintis dan metode-metode ilmiah yang
digunakanaanaya sama sekali luput dari perhatian kita. Jarang sekali, kalau tidak dikatakan
tidak ada, sarjana filsafat Islam di negeri ini yang pernah meneliti teori-teorinya tentang
fisika, psikologi, atau geometri, astronomi dan musiknya. Tidak juga kedokterannya yang
sangat dikenal di dunia Barat berkat karya agungnya al-Qanun fi al-Thibb. Hal ini terjadi,
menurut hemat penulis, karena selama ini filsafat hanya dipahami sebagai disiplin ilmu
yang mempelajari hal-hal yang bersifat metafisik, sehingga fisika, matematika, seolah
dipandang bukan sebagai disiplin ilmu-ilmu filsafat.
c. Pandangan Filsafat yang Holistik
Satu hal lagi yang perlu didiskusikan dalam mengenal filsafat Islam ini adalah pandangannya
yang bersifat integral-holistik.Integrasi ini, sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam
karya saya yang lain Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik, terjadi pada berbagai
bidang, khususnya integrasi di bidang sumber ilmu dan klasifikasi ilmu. Filsafat Islam
mengakui, sebagai sumber ilmu, bukan hanya pencerapan indrawi, tetapi juga persepsi
rasional dan pengalaman mistik. Dengan kata lain menjadikan indera, akal dan hati sebagai
sumber-sumber ilmu yang sah. Akibatnya terjadilah integrasi di bidang klasifikasi ilmu
antara metafisika, fisika dan matematika, dengan berbagai macam divisinya. Demikian juga
integrasi terjadi di bidang metodoogi dan penjelasan ilmiah. Karena itu filsafat Islam tidak
hanya mengakui metode observasi, sebagai metode ilmiah, sebagaimana yang dipahami
secara eksklusif dalam sains modern, tetapi juga metode burhani, untuk meneliti entitas-
entitas yang bersifat abstrak, ‘irfani, untuk melakukan persepsi spiritual dengan
menyaksikan (musyahadah) secara langsung entitas-entitas rohani, yang hanya bisa
dianalisa lewat akal, dan terakhir bayani, yaitu sebuah metode untuk memahami teks-teks
suci, seperti al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu, filsafat Islam mengakui kebasahan
observasi indrawi, nalar rasional, pengalaman intuitif, dan juga wahyu sebagai sumber-
sumber yang sah dan penting bagi ilmu.
Hal ini penting dikemukakan, mengingat selama ini banyak orang yang setelah menjadi
ilmuwan, lalu menolak filsafat dan tasawuf sebagai tidak bermakna. Atau ada juga yang
telah merasa menjadi filosof, lalu menyangkal keabsahan tasawuf, dengan alasan bahwa
tasawuf bersifat irrasional. Atau ada juga yang telah merasa menjadi Sufi lalu menganggap
tak penting filsafat dan sains. Dalam pandangan filsafat Islam yang holistik, ketiga bidang
tersebut diakui sebagai bidang yang sah, yang tidak perlu dipertentangkan apa lagi ditolak,
karena ketiganya merupakan tiga aspek dari sebuah kebenaran yang sama. Sangat mungkin
bahwa ada seorang yang sekaligus saintis, filosof dan Sufi, karena sekalipun indera, akal
dan hati bisa dibedakan, tetapi ketiganya terintegrasi dalam sebuah pribadi. Namun,
seandainya kita tidak bisa menjadi sekaligus ketiganya, seyogyanya kita tidak perlu
menolak keabsahan dari masing-masing bidang tersebut, karena dalam filsafat Islam ketiga
unsur tersebut dipandang sama realnya.
2. Peran Filsafat Islam dalam Dunia Modern
a. Menjawab Tantangan Kontemporer

Pada saat ini, dalam pandangan saya, umat Islam telah dilanda berbagai persoalah ilmiah
filosofis, yang datang dari pandangan ilmiah-filosofis Barat yang bersifat sekuler. Berbagai
teori ilmiah, dari berbagai bidang, fisika, biologi, psikologi, dan sosiologi, telah, atas nama
metode ilmiah, menyerang fondasi-fondasi kepercayaan agama. Tuhan tidak dipandang
perlu lagi dibawa-bawa dalam penjelasan ilmiah. Misalnya bagi Laplace (w. 1827),
kehadiran Tuhan dalam pandangan ilmiah hanyalah menempati posisi hipotesa.Dan ia
mengatakan, sekarang saintis tidak memerlukan lagi hipotetsa tersebut, karena alam telah
bisa dijelaskan secara ilmiah tanpa harus merujuk kepada Tuhan. Baginya, bukan Tuhan
yang telah bertanggung jawab atas keteraturan alam, tetapi adalah hukukm alam itu
sendiri. Jadi Tuhan telah diberhentikan sebagai pemelihara dan pengatur alam.
Demikian juga dalam bidang biologi, Tuhan tidak lagi dipandang sebagai pencipta hewan-
hewan, karena menurut Darwin (w. 1881), munculnya spesies-spesies hewan adalah karena
mekanisme alam sendiri, yang ia sebut sebagai seleksi alamiah (natural selection).
Menurutnya hewan-hewan harus bertransmutasi sendiri agar ia dapat tetap survive, dan
tidak ada kaitannya dengan Tuhan. Ia pernah berkata, “kerang harus menciptakan
engselnya sendiri, kalau ia mau survive, dan tidak karena campur tangan sebuah agen yang
cerdas di luar dirinya. Oleh karena itu dalam pandangan Darwin, Tuhan telah berhenti
menjadi pencipta hewan.
Dalam bidang psikologi, Freud (w. 1941) telah memandang Tuhan sebagai ilusi. Baginya
bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan.
Tuhan, sebagai konsep, muncul dalam pikiran manusia ketika ia tidak sanggup lagi
menghadapi tantangan eksternalnya, serti bencana alam dll., maupun tantangan
internalnya, ketergantungan psikologis pada figur yang lebih dominan. Sedangkan Emil
Durkheim, menyatakan bahwa apa yang kita sebut Tuhan, ternyata adalah Masyarakat itu
sendiri yang telah dipersonifikasikan dari nilai-nilai sosial yang ada. Dengan demikian
jelaslah bahwa, dalam pandangan sains modern Tuhan tidak memiliki tempat yang spesial,
bahkan lama kelamaan dihapus dari wacana ilmiah.
Tantangan yang lain juga terjadi di bidang lain seperti bidang spiritual, ekonomi, rkologi
dll. Tentu saja tantangan seperti ini tidak boleh kita biarkan tanpa kritik, atau respons
kritis dan kreatif yang dapat dengan baik menjawab tantangan-tantangan tersebut secara
rasional dan elegan, dan tidak semata-mata bersifat dogmatis dan otoriter. Dan di sinilah
saya melihat bahwa filsafat Islam bisa berperan sangat aktif dan signifikan.
b. Filsafat sebagai Pendukung Agama
Berbeda dengan yang dikonsepsikan al-Ghazali, di mana filsafat dipandang sebagai lawan
bagi agama, saya melihat filsafat bisa kita jadikan sebagai mitra atau pendukung bagi
agama. Dalam keadaan di mana agama mendapat serangan yang gencar dari sains dan
filsafat modern, filsafat Islam bisa bertindak sebagai pembela atau tameng bagi agama,
dengan cara menjawab serangan sains dan filsafat modern terhadap agama secara filosofis
dan rasional. Karena menurut hemat saya tantangan ilmiah-filosofis harus dijawab juga
secara ilmiah-filosofis dan bukan semata-mata secara dogmatis. Dengan keyakinan bahwa
Islam adalah agama yang menempatkan akal pada posisi yang terhormat, saya yakin bahwa
Islam, pada dasarnya bisa dijelaskan secara rasional dan logis.
Selama ini filsafat dicurigai sebagai disiplin ilmu yang dapat mengancam agama. Ya,
memang betul. Apaalagi filsafat yang selama ini kita pelajari bukanlah filsafat Islam,
melainkan filsafat Barat yang telah lama tercerabut dari akar-akar metafisiknya. Tetapi
kalau kita betul-betul mempelajari filsafat Islam dan mengarahkannya secara benar, maka
filsafat Islam juga adalag sangat potensial untuk menjadi mitra filsafat atau bahwan
pendukung agama. Di sini filsafat bisa bertindak sebagai benteng yang melindungi agama
dari berbagai ancaman dan serangan ilmiah-filosofis seperti yang saya deskrisikan di atas.
Serangan terhadap eksistensi Tuhan, misalnya dapat dijawab dengan berbagai argumen
adanya Tuhan yang telah banyak dikemukakan oleh para filosof Muslim, dari al-Kindi, Ibn
Sina, Ibn Rusyd dll., seperti yang telah saya jelaskan antara lain dalam buku saya
Menembus Batas Waktu. Serangan terhadap wahyu bisa dijawab oleh berbagai teori
pewahyuan yang telah dikemukakan oleh banyak pemikir Muslim dari al-Ghazali, al-Farabi,
Ibn Sina, Ibn Taymiyyah, Ibn Rusyd, Mulla Shadra dll.

Demikian juga serangan terhadap validitas pengalaman mistik dan religius, juga telah
dijawab secara mendalam oleh Muhammad Iqbal dalam bukunya Reconstruction of
Religiuous Thought in Islam dan Mehdi Ha’iri Yazdi dalam bukunya The Principle of
Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence. Dalam kedua karya ini, Iqbal
dan Yazdi telah mencoba menjelaskan secara filosofis tentang realitas pengalaman religius
dan mistik, dan berusaha menjadikan pengalaman mistik sebagai salah satu sumber ilmu
yang sah. Tentu saja masih banyak hal yang dapat dilakukan filsafat Islam untuk mendukung
agama, yang tidak pada tempatnya untuk dijelaskan secara rinci di sini.
3. Filsafat Islam di Indonesia
a. Masa Lalu
Filsafat Islam belum begitu dikenal di Indonesia, karena memang filsfat Islam baru
diperkenalkan ke publik pada tahun 70-an oleh almarhum Prof. Dr. Harun Nasution dalam
bukunya yang terkenal Falsafah & Mistisime dalam Islam, yang diterbitkan Bulan Bintang
pada tahun 1973. Dalam buku ini pak Harun telah memperkenalkan 6 filosof Muslim yang
terkenal yaitu al-Kindi, al-Razi, al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd, setelah sebelumnya ia
membicarakan tentang “Kontak Pertama antara Islam dan ilmu pengetahuan serta falsafah
Yunani.” Dalam buku ini pak Harun dengan singkat tetapi esensial memperkenalkan biografi
dan ajaran para filosof Muslim tersebut, sehingga para mahasiswa Muslim, khususnya
mahasiswa IAIN di seluruh Indonesia, telah menyadari keberadaan filsafat Islam yang
sebelumnya hampir tidak pernah diperkenalkan kepada mereka. Dan dengan dijadikannya
buku tersebut sebagai buku wajib, maka pak Harun boleh dikata telah berhasil
memperkenalkan filsafat Islam di Indonesia ini.
Tetapi karena buku ini merupakan satu-satunya buku yang digunakan dalam matakuliah
filsafat Islam selama puluhan tahun, maka timbul kesan yang keliru bahwa seakan filsafat
Islam hanya menghasilkan 6 orang filosof sebagaimana yang diperkenalkan oleh Pak Harun
di atas. Untunglah pada tahun 1987 Pustaka Jaya telah menerbitkan sebuah buku
terjemahan yang bagus dan komprehensif tentang filsafat Islam karangan Majid Fakhry yang
berjudul Sejarah Filsafat Islam, yang diterjemahkan oleh saya sendiri, sehingga dengan
demikian sadarlah kita bahwa filsafat Islam telah melahirkan bukan hanya 6 filosof,
sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Pak harun, tetapi puluhan bahkan mungkin
ratusan para filosof yang tidak kalah hebatnya daripada filosof-filosof yang telah
diperkenalkan sebelumnya. Buku ini menjelaskan filsafat Islam dari sudut historis, yang
meliputi paparan tentang perkembangan filsafat sebelum Islam, pada masa awal Islam,
masa pertengahan dan masa modern. Dan buku ini telah menikmati posisi yang penting di
universitas-universitas Islam, sebagai buku daras yang tak ada duanya pada saat itu.
Mahasiswa Muslim sangat diuntungkan dengan kehadiran karya terjemahan ini, karena ia
telah banyak mengubah persepsi yang keliru tentang filsafat Islam dari sudut lingkup,
rentangan waktu, ajaran dll. Dengan buku ini pula kita menjadi sadar bahwa ternyata
filsafat Islam tidak berhenti pada Ibn Rusyd sebagaimana dikesankan setelah membaca buku
pak harun, tetapi terus hidup dan berlangsung hingga saat ini.
b. Masa Kini
Yang saya maksud dengan masa kini, adalah kurang lebih periode sepuluh tahun terkahir
dari sekarang. Pada saat ini kita telah menikmati banyak informasi tentang filsafat Islam.
Diterjemahkannya buku yang diedit oleh M.M. Syarif yang berjudul, History of Muslim
Philosophy secara parsial ke dalam bahasa Indonesia telah memperkaya khazanah filsafat
Islam di Indonesia. Tetapi tambahan informasi yang sangat signifikan terjedi setelah
penerbit Mizan menerjemahkan karya besar dalam sejarah filsafat Islam yang diedit oleh
Nasr dan Oliver Leaman, yang berjudul A History of Islamic Philosophy ke dalam bahasa
Indonesia, dengan judul Ensiklopedia Filsafat Islam (dua jilid). Berbagai karya filosofis yang
lebih spesifik (misalnya yang membahas tentang pemikiran para filosof tertentu) juga telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti The Philosophy of Mulla Sadra yang
ditulis oleh Fazlur Rahman, yang membahas beberapa aspek dari pemikiran Mulla Shadra,
atau Knowledge and Illumination, karangan Hussein Ziai, yang membicarakan secara khusus
filsafat iluminasi Suhrawardi. Namun sejauh ini, informasi ini lebih bersandar pada
terjemahan dari karya asing, dan bukan karangan sarjana Muslim Indonesia sendiri. Sedikit
sekali karya filsafat Islam yang ditulis oleh para penulis negeri ini. Ada misalnya buku

tentang Suhrawardi yang ditulis oleh sdr Amroeni, khususnya kritik Suhrawardi terhadap
filsafat peripatetik,atau yang ditulis oleh M. Iqbal tentang Ibn Rusyd, sebagai bapak
rasionalisme. Namun tulisan-tulisan tersebut masih bersifat studi tokoh, dan pada dasarnya
diadaptasi dari sebuah tesis atau disertasi. Tidak banyak penulis Muslim Indonesia yang
menulis buku pengantar terhadap filsafat Islam yang bersifat independen, kecuali pak
Haidar Bagir dengan Buku Saku Filsafat Islam-nya, dan saya sendiri dengan Gerbang
Kearifan-nya.
4. Menyongsong Masa Depan
a. Rekonstruksi Filsafat Islam
Kita pada dasarnya tidak tahu persis apa yang akan terjadi pada filsafat Islam di masa
depan. Tetapi kita bisa menyongsongnya dengan melakukan beberapa kegiatan yang
konstruktif bagi masa depan filsafat Islam yang lebih baik. Tetapi terus terang saja saya
merasa sedih demi memikirkan betapa sedikitnya usaha-usaha dari para sarjana Muslim di
negeri ini untuk mempersiapkan masa depan filsafat Islam yang lebih baik. Banyak sarjana-
sarjana terbaik Muslim, justru lebih tertarik pada filsafat Barat daripada filsafat Islam
sendiri. Nah keadaan inilah yang kemudian mendorong saya untuk menulis beberapa karya
filsafat, bukan saja agar filsafat Islam lebih dikenal, tetapi juga sebagai upaya
merekonstruksi filsafat Islam agar lebih relevan dengan konteks dan tuntutan masa kini.
Nah dalam rangka mengkonstruksi pemikiran filosofis inilah maka saya mencoba untuk
menulis beberapa karya, seperti yang akan saya uraikan berikut ini.
1). Remapping Filsafat Islam
Tidak banyaknya buku pengantar filsafat Islam telah menyebabkan banyak ketidakjelasan
tentang aspek-aspek apa saja yang diliput dalam filsafat Islam. Oleh karena itu saya merasa
terdorong untuk memetakan kembali (remapping) filsafat Islam, dan untuk itu saya menulis
sebuah buku pengantar filsafat Islam yang berjudul Gerbang Kearifan. Buku kecil ini
dimaksudkan untuk memperkenalkan filsafat Islam dalam berbagai aspeknya. Sering buku
pengantar filsafat Islam bersifat monolitik, dalam arti hanya membahas satu aspek tertentu
saja dari filsafat Islam, misalnya alirannya saja, sejarahnya saja, atau tokoh-tokohnya saja.
Tidak banyak buku pengantar yang mencoba mengenalkan beberapa aspek filsafat Islam
sekaligus. Nah, karena itu saya mencoba dalam karya kecil ini memperkenalkan filsafat
Islam dalam berbagai aspeknya, seperti aliran-aliran filsafat yang telah dikembangkan di
dunia Islam, seperti Peripatetik, Illuminasionis, Irfani dan Hikmah Muta’aliyyah. Selain
aliran-aliran, karya ini juga mencoba mediskusikan beberapa topik penting dalam filsafat
seperti tentang Tuhan, alam dan manusia. Digambarkan di sini berbagai konsep filosofis
tentang Tuhan, seperti Tuhan sebagai Sebab Pertama, sebagai Wajib al-Wujud, sebagai
Cahaya dan juga sebagai Wujud Murni. Kemudian beberapa pertanyaan kritis diajukan
berkaitan dengan filsafat alam, misalnya, apakah alam dicipta atas kehendak Tuhan atau
keniscayaan logis? Apakah alam abadi atau dicipta dalam waktu? Apakah alam telah
ditentukan secara deterministik atau berkembang secara evolutif? Dan apakah alam diatur
secara langsung oleh Tuhan atau didelegasikan kepada sebab sekunder? Adapun tentang
manusia, maka dibahas di sini manusia sebagai mikrokosmos, manusia sebagai tujuan akhir
penciptaan, manusia sebagai theomorfis dan juga disinggung tentang manusia dan
kebebasan memilihnya.
Selain aspek historis (dalam bentuk aliran-aliran) dan tema-tema utama, Gerbang Kearifan
juga membahas tentang hubungan filsafat dan disiplin ilmu lainnya. Misalnya dijelaskan di
dalamnya, bagaimana hubungan antara filsafat dan sains, filsafat dan agama, serta
hubungan filsafat dan mistisime atau tasawuf. Dan terkahir buku ini juga membicarakan
tentang ladang-ladang potensial yang bisa digarap untuk kajian masa depan filsafat Islam.
Ladang-ladang potensial tersebut antara lain, (1) studi biografis, yang memperkenalkan
ribuan ilmuan-filosof Muslim, (2) studi gnomologis, yang mencoba membahas berbagai karya
hikmah yang pernah dibuat oleh para filosof Muslim, (3) sains Islam, yang sangat penting
dikaji ulang tetapi yang sangat terabaikan, (4) filsafat perenial, yang membahas pemikiran
dari berbagai pemikir Muslim perenial yang umumnya berasal dari Eropa, yang telah banyak
menghasilkan karya-karya besar, dan terakhir (5) filsafat paska-Ibn Rusyd, yang akan
membicarakan perkembangan filsafat Islam setelah masa Ibn Rusyd hingga saat ini. Dengan
demikian jelas, bahwa Gerbang Kearifan berusaha untuk memetakan kembali seluruh hasil
pemikiran filsafat Islam dalam suatu kesatuan yang padu.

2) Rekonstruksi Epistemologis
Problem lain yang dihadapi filsafat Islam pada saat ini adalah tidak jelasnya pada
kebanyakan pembaca filsafat Islam di negeri ini tentang bangunan epistemologi Islam.
Banyak kesimpang-siuran yang terjadi dan ketidak-jelasan yang dapat ditemukan di bidang
yang satu ini. Saya sampai pada kesimpulan bahwa sebuah karya yang khusus di bidang ini
untuk merekonstruksi bangunan epistemologi Islam perlu ditulis. Inilah yang mendorong
saya kemudian untuk menulis sebuah karya epistemologi yang berjudul Menyibak Tirai
Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam. Dalam karya yang terbit pada tahun 2003 ini saya
mencoba untuk merekonstruksi epistemologi Islam dalam 14 bab. Menurut saya adalah
penting untuk pertama-tama mengerti betul apa yang disebut ilmu dalam tradisi Islam dan
bedanya dengan sains. Ilmu dibedakan dengan sains terutama dalam lingkupnya. Sementara
sains modern membatasi lingkupnya hanya pada bidang-bidang fisik-empiris, ilmu dalam
tradisi ilmiah Islam meliputi bukan hanya bidang fisik tetapi juga bidang matematik dan
bahkan metafisik.
Isu lain yang perlu mendapat perhatian juga berkaitan dengan objek ilmu dan metode
ilmiah. Dalam filsafat ilmu modern, objek-objek ilmu dibatasi hanya pada objek-objek fisik,
sedangkan dalam tradisi ilmiah Islam, objek ilmu tidak pernah dibatasi hanya pada objek-
objek fisik, tetapi melebar pada objek-objek matematik dan metafisik. Namun sebelum
berbicata tentang objek-objek non-fisik, maka terlebih dahulu perlu didiskusikan tentang
status ontologis objek-objek non-fisik tersebut, mengingat banyak orang-orang modern yang
merasa ragu akan keberadaan dan realitas mereka. Bagi para filosof Muslim, semua objek-
objek ilmu, baik yang fisik maupun yang non-fisik adalah real, dalam arti nyata dan
memiliki status ontologis yang fundamental. Namun justru karena objek ilmu itu berbeda-
beda dalam sifat dasarnya, maka kita juga harus menemukan beberapa metode ilmiah yang
berbeda agar cocok dengan jenis dn sifat dasar objeknya. Observasi tentu sja sangat
berguna untuk meneliti objek-objek yang bersifat fisik tetapi untuk objek-objek yang
bersifat non-fisik maka kita perlu menggunakan metode lain, seperti burhani dan ‘irfani.
Demikian juga untuk memhami naskah-naskah suci, seperti al-Qur’an dan hadits diperlukan
metode lain, yang biasa disebut metode bayani.
Selain isu-isu di atas, filsafat Islam juga, menurut saya, perlu mendiskusikan tentang
realitas pengalaman mistik atau religius, karena sikap skeptik dari banyak kalangan
ilmuwan dan filosof modern terhadapnya. Kita harus bisa menunjukkan secara rasional,
bahwa pengalaman religus (mistik atau kenabian) adalah real, sama realnya dengan
pengalaman indrawi. Dan karena itu bisa untuk dijadikan sebagai sumber yang sah bagi
ilmu, sebagaimana pengalaman indrawi. Selain pengalaman mistik, kita juga perlu
mendiskusikan realitas pewahyuan dan menjelaskan secara rasional kemungkinan
pewahyuan seperti yang dialami oleh para Nabi.
Persoalan lain yang perlu dicermati adalah soal objektivitas ilmu. Sementara ini banyak
kalangan percaya bahwa sains telah mencapai tingkat objektivitas yang demikian tinggi,
sehingga bisa berlaku universal dan bebas nilai. Tetapi peneltian yang cermat,
menunjukkan bahwa objektivitas absolut tidak mungkin bisa dicapai, dan ini terjadi karena
hasil penelitian ilmiah sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman,
kecenderungan bahkan ideologi dan kepercayaan dari ilmuwan-ilmuwan itu sendiri. Seorang
astronom Barat sepeerti Laplace memiliki pemahaman yang sangat berbeda tentang alam
dari astronom Muslim, seperti al-Biruni. Bahkan ketika Darwin dan Rumi percaya kepada
evolusi, namun dalam memberikan keterangan tentang apa yang menyebabkan atau
bertanggung jawab atas terjadinya evolusi tersebut sangat berbeda. Oleh karena itu maka
menurut saya perlu dirumuskan bagaimana pandangan keilmuan yang cocok dengan ajaran
fundamental Islam, sehingga diperoleh kemajuan ilmiah, tetapi tidak bertentangan dengan
kepercayaan agama.
3). Integrasi Ilmu
Hal lain yang perlu dikonstruksi ulang adalah soal integrasi ilmu. Dikotomi yang terjadi
antara ilmu-ilmu agama, di sati pihak, dan ilmu-ilmu umum, di pihak lain telah

menimbulkan berbagai masalah keilmuan yang merugikan. Terjadinya penolakan terhadap
keabsahan ilmiah dari keduaanya seringkali terjadi. Oleh karena itu perlu sekali dicari jalan
untuk menjembatani dan mengintegrasikan berbagai aspek keilmuan tersebut dalam suatu
pandangan yang holistik-integral. Untuk menjawab tantangan inilah, maka kemudian saya
mencoba merumuskan integrasi ilmu ini dalam karya saya yang lain yang berjudul Integrasi
Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. Maka berbagai aspek integrasi ilmu terus ditelusuri dan
diteliti. Dari penelitian ini maka dirmuskan bahwa sumber dari segala integrasi ilmu ini
tidak lain daripada konsep tawhid, yang merupakan ajaran yang paling fundamental dalam
Islam. Adapun integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum terletak pada kenyataan bahwa
objek dari kedua jenis ilmu tersebut adalah sama, yakni sama-sama sebagai ayat Allah.
Ilmu-ilmu agama telah menjadikan al-Qur’an sebagai objek utama penelitiannya, sedangkan
ilmu-ilmu umum telah menjadikan alam sebagai objek utama, Baik al-Qur’an maupun alam
dipandang dalam tradisi ilmiah Islam sebagai ayat-ayat Allah, hanya saja yang pertama ayat
qawliyyah sedangkan yang kedua kawniyyah. Persoalan sebenarnya timbul ketika ilmu-ilmu
umum berhenti memandang alam sebagai ayat Allah, sementara ilmu-ilmu agama masih
memandang al-Qur’an sebagai ayat Allah. Menurut hemat saya kalau saja kita bisa
memandang alam sebagai ayat Allah dalam penelitian ilmiah kita, maka konflik antara
agama dan sains bisa dihindarkan.
Selain menemukan titik temu antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, perlu juga
dirumuskan ulang integrasi di berbagai bidang keilmuan, seperti integrasi objek-objek ilmu,
integrasi bidang ilmu, sumber ilmu, dan metode ilmiah, dll..Dalam soal integrasi objek
ilmu, epistemologi Islam tidak membatasi objek ilmu hanya pada objek-objek fisik, tetapi
juga objek-objek non-fisik, dan ini tentu saja didasarkan pada keyakinan para ilmuwan
Muslim pada realitas atau status ontologis dari objek-objek tersebut, baik yang fisik
maupun non-fisik. Dengan diakuinya objek-objek fisik dan non-fisik tersebut, maka mudah
untuk membayangkan adanya integrasi di bidang-bidang atau cabang-cabang ilmu yang
berbeda sifat-sifatnya. Maka dalam karya ini saya menunjukkan adanya integrasi antara
ilmu-ilmi fisika, yang meliputi minerologi, botani, zoologi, anatomi, kedokteran dan
psikologi, ilmu-ilmu matematika, yang meliputi aritmatika, geometri, aljabar, optik, musik
dan astronomi, dan ilmu-ilmu metafisik, yang meliputi, ontologi, teologi, kosmologi,
antropologi dan eskatologi.
Selain pada objek dan bidang ilmu, integrasi juga perlu dirumuskan dalam kaitannya dengan
sumber ilmu. Dalam epistemologi Islam, sumber ilmu tidak dibatasi hanya pada persepsi
inderawi, tetapi juga meliputi penalaran rasional dan persepsi atau pengalaman intuitif,
dan sekaligus juga wahyu. Sumber-sumber yang berbeda ini, sekalipun dapat dibedakan
satu sama lain, tetapi tidak dipandang secara terpisah-pisah melainkan dibingkai dalam
sebuah bangunan yang holistik. Sumber-sumber yang berbeda ini dipandang sama-sama
sahnya sebagai sumber ilmu, sehingga epistemologi Islam memiliki sumber ilmu yang lebih
kaya ketimbang epistemologi Barat yang hanya menerima persepsi indrawi sebagai sumber
yang sah bagi ilmu. Namun integrasi di bidang sumber-sumber ilmu, ini juga harus diikuti
oleh integrasi di bidang metode ilmiah. Adanya objek-objek ilmu yang berbeda sifat
dasarnya, menyebabkan ilmuwan-ilmuwan Muslim berusaha membangun berbagai metode
ilmiah yang berbeda-beda. Karena metode observasi yang biasa digunakan untuk objek-
objek fisik, tentu saja tidak bisa digunakan untuk meneliti objek-objek akal yang bersifat
abstrak atau immaterial. Tentu untuk itu perlu dicari metode lain yang tepat untuknya.
Dengan demikian maka dalam Integrasi Ilmu ini saya mencoba mendiskusikan sekurangnya
empat macam metode ilmiah yang pernah digunakan oleh para ilmuwan Muslim, yaitu
tajribi (metode eksperimen), burhani (metode logika demonstratif), ‘irfani (metode
intuitif) dan bayani (metode hermeneutik, yang digunakan untuk memahami naskah suci).
b. Reaktualisasi Tradisi Filsafat Islam
1) Membangun Tradisi Ilmiah Baru
Upaya rekonstruksi filsafat Islam seperti yang saya lakukan dalam karya-karya di atas,
tentunya telah memberi sumbangan yang cukup berarti kepada wacana filosofis Islam di
Indonesia. Namun wacana saja, saya anggap tidak akan betul-betul signifikan bagi
perkembangan filsafat di negeri ini. Upaya-upaya yang lebih real dan kongkrit harus terus

dilakukan, agar kehadiran dan perkembangan filsafat Islam semakin terasa. Ada setidaknya
dua upaya yang telah saya lakukan: (1) membangun tradisi ilmiah Islam, dan (2) mendirikan
pusat kajian dan informasifilsafat Islam.
Marilah kita mulai dengan yang pertama. Kemajuan yang berati dari ilmu pengetahuan
nampaknya tidak akan betul-betul tercapai sampai suatu bangsa memiliki tradisi ilmiahnya.
Barat maju dalam ilmu dan memberi banyak sumbangan kepada peradaban dunia karena ia
memiliki tradisi ilmiah yang agung. Demikian juga para ilmuwan Muslim pada masa lalu
telah terbukti secara historis meraih prestasi ilmiah yang sangat gemilang dan memberikan
sumbangan yang sangat signifikan kepada peradaban dunia, karena mereka memiliki sebuah
tradisi ilmiah yang mapan dan karakteristik yang berbeda dengan tradisi ilmiah Barat.
Dengan demikian saya sampai pada kesimpulan bahwa tanpa dimilikinya sebuah tradisi
ilmiah tertentu, maka bangsa kita tidak akan mencapai prestasi yang gemilang dalam hal
kemajuan ilmu. Oleh karena itu, upaya yang sungguh-sungguh perlu dilakukan untuk
membangun sebuah tradisi ilmiah tertentu di negeri ini.
Namun untuk mampu mendirikan sebuah tradisi ilmiah yang didambakan tidaklah mudah,
dan kita membutuhkan sebuah model ideal untuk kita tiru. Untuk keperluan itulah maka
saya mencoba, dalam buku saya yang lain Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, untuk
memberi gambaran yang gamblang tentang bagaimana sebuah tradisi ilmiah dibangun.
Tradisi ilmiah Islam saya pilih sebagai model ideal untuk membangun tradisi ilmiah, karena
pertama tradisi ini lebih cocok kita kembangkan di negeri ini yang berpenduduk mayoritas
Muslim. Kedua karena tradisi ilmiah Barat telah lama diperkenalkan di sini, dan kita
membutuhkan sebuah tradisi ilmiah yang baru sebagai alternatif.
Dalam buku Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam ini saya mencoba memotret tradisi ilmiah
Islam dengan gamblang dengan maksud mencari tahu apa rahasia sukses para ilmuwan
Muslim pada masa kejayaannya, untuk kemudian kita tiru, sehingga terbangunlah sebuah
tradisi ilmiah yang didambakan. Buku ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan penting,
yaitu (1) faktor-faktor apa yang telah mendorong pesatnya ilmu pengetahuan di masa
kejayaan Islam? (2) Lembaga-lembaga pendidikan yang bagaimana yang telah bertanggung
jawab atas munculnya ratusan ilmuwan Muslim yang agung di berbagai bidang, dan (3) apa
sistempendidikan yang diterapkan di sana? Selain tiga pertanyaan di atas adalah lagi tiga
pertanyaan yang tidak kalah fundamentalnya yaitu (4) kegiatan-kegiatan ilmiah apa saja
yang telah dilakukan para ilmuwan Muslim sehingga mereka telah melahirkan ratusan ribu
karya ilmiah di berbagai bidang? (5) riser-riset ilmiah yang bagaimana yang mereka lakukan
sehingga mereka berhasil mengembangkan berbagai disiplin ilmiah, baik yang berkenaan
dengan ilmu-ilmu agama (naqliyyah) maupun umum (‘aqliyyah) dan terakhir (6) metode-
metode ilmiah apa saja yang mereka gunakan dalam mempelajarai dan menganalisa
berbagai objek ilmu yang berbeda-beda jenis dan sifat dasarnya?
Dari upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini maka kita kemudian menjadi tahu apa
yang menjadi kunci sukses mereka. Pertama, faktor-faktor yang mendorong pesatnya ilmu
pengetahuan pada masa itu adalah (1) dorongan religius di mana agama Islam sangat
menekankan pentingnya bagi umat Islam untuk menuntut ilmu, dengan menjadikannya
sebagai kewajiban agama. (2) apresiasi masyarakat yang sangat tinggi terhadap ilmu,
ilmuwan dan buku, dan (3) patronasi yang sangat besar dan tulus dari para penguasa dan
pengusaha terhadap perkembangan ilmu. Sebuah bangsa yang tidak lagi mempedulikan
kewajiban agama dalam menuntut ilmu, tidak adanya apresiasi yang tinggi terhadap ilmu
dan tidak ada pengayoman yang serius terhadap dari para penguasa dan pengusaha
terhadap ilmu, maka di sana sulit dibayangkan ilmu pengetahuan akan mendapat kemajuan.
Selanjutnya tentang lembaga pendidikan yang di bangun pada masa itu, kita jadi mengenal
dua jenis lembaga pendidikan. Pertama lembaga pendidikan formal dan yang kedua
informal. Perdidikan formal berupa madrasah (colleges) yang didirikan para penguasa untuk
mengajarkan ilmu-ilmu agama. Sedangkan lembaga-lembaga informal meliputi banyak
jenis: akademi, perpustakaan, rumah sakit, observatorium, dan zawiyyah. Melalui lembaga-
lembaga informal ini maka disiplin-disiplin ilmu umum telah dikembangkan dengan baik.

Tentang sistem pendidikan, para ilmuwan Muslim telah mengembangkan metode
pengajaran yang khusus, yang sangat berpengaruh pada pesatnya perkembangan ilmu, yaitu
menyalin buku, menghafal dan metode debat yang sangat merangsang daya kritis sang
murid. Bebarapa poin penting yang saya diskusikan antara lain, motivasi mencari ilmu,
yaitu untuk mencari kebenaran, dan bukan sekedar untuk mendapatkan pekerjaan seperti
yang berlaku di negeri ini, menyusun klasifikasi ilmu, sehingga tahu peta ilmu dan saling
hubungan antara bidang, dan kurikulum, yaitu materi-materi apa saja yang harus dipelajari
oleh seorang murid.
Adapun tentang kegiatan ilmiah apa saja yang mereka lakukan, kita kemudian mengenal
beberapa kegiatan ilmiah yang esensial bagi setiap tradisi ilmiah, yaitu memburu
manuskrip, menerjemahkan, membuat komentar atas karya-karya orang-orang terdahulu,
menulis karya-karya orisinal yang bukan saja ekstensif tetapi juga sangan intensif, menyalin
dan mendistribusi buku, rihlah dan khalwat, sebuah upaya untuk mengeksplorasi dunia fisik
dan dunia batin, seminar dan diskusi ilmiah baik yang diselenggarakan di lingkungan istana
atau di tempat kediaman seorang sarjana, melakukan kritik baik yang bersifat ilmiah
(agama maupun umum), sosial dan politik dn terakhir eksperimen-eksperimen yang
menyebabkan ilmuwan-ilmuwan Muslim dipandang sebagai perintis metode eksperiman
dalam kegiatan ilmiah mereka.
Tentang riset-riset ilmiah yang para ilmuwan Muslim lakukan, kita terperangah akan luasnya
bidang yang mereka tekuni. Penelitian atau riset yang mereka lakukan ternyata tidak hanya
ada bidang-bidang ilmu keagamaan sebegaimana yang dikesankan selama ini, tetapi juga
bidang-bidang ilmu rasional yang melipun ilmu-ilmu fisika, matematika dan metafisika.
Ribuan karya telah mereka hasilkan dari penelitian tersebut. Terakhir, berkenaan dengan
metode-metode ilmiah yang mereka gunakan dalam peneliian-penelitian ilmiah mereka.
Dari sini kita tahu bahwa mereka telah menggunakan berbagai metode yang berbeda, sesuai
dengan bidang dan objek yang ditelitinya. Maka setidaknya empat metode telah
teridentifikasa, yaitu, seperti telah disinggung, metode tajribi, burhani, ‘irfani dan bayani.
2) CIPSI dan Masa Depan Filsafat Islam: Implementasi
Selain upaya membangun sebuah tradisi ilmiah, seperti yang dibicarakan di atas, gerakan
yang lebih kongkrit masih perlu dilakukan untuk mengembangkan filsafat Islam di Negeri
ini. Oleh karena itu, saya dan kawan-kawan bertekad mendirikan sebuah lembaga yang bisa
mengaktualkan tradisi ilmiah di atas sebagai implementasi dari citia-cita membangun
sebuah tradisi ilmiah Islam di Indonesia. Oleh karena itulah pada bulan Juli yang lalu, kami
mendirikan Pusat Kajian dan Informasi Filsafat Islam atau Center for Islamic-Philosophical
Studies and Information (CIPSI). Sesuai dengan namanya, maka CIPSI bergerak pada dua
divisi, pertama divisi kajian dan kedua divisi informasi. Divisi kajian meliputi
penerjemahan, kajian dan diskusi, penelitian dan pengajaran. Sedangkan divisi informasi
meliputi database, perpustakaan dan penerbitan.
Sampai saat ini CIPSI baru melakukan beberapa kegiatan ilmiah yang belum seberapa, dan
belum bisa menggarap semua kegitan kedua divisi di atas. Beberapa kegiatan yang telah
dilakukan antara lain (1) mengkoleksi buku-buku klasik, (2) mendata biografi dan karya-
karya para filosof/ilmuwan Muslim (3) menerjemahkan karya-karya terebut dan (4)
menyelenggarakan beberapa kajian/diskusi baik intern maupun ekstern.
(1) Koleksi karya-karya ilmiah.CIPSI berusaha untuk menghidupkan kembali tradisi ilmiah
Islam, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para ilmuwan Muslim. Salah satunya
adalah mengkoleksi karya-karya kasik. Seperti ilmuwan-ilmuwan masa lalu berusaha keras
untuk melakukan pemburuan manusikrip, maka CIPSI juga berusaha untuk menghimpun atau
mengoleksi sebanyak mungkin karya ilmiah yang telah dihasilkan para ilmuwan Muslim dari
masa klasik, abad tengah dan modern. Hingga saat ini CIPSI telah menghimpun sebanyak
110 judul (140 jilid/280 copies) dari karya filosofis bererapa filosof terkenal, dari al-Kindi
hingga Muhammad Taqi Misbah Yazdi. (list karya tersebut dapat dilihat dalam slide
terpisah). Dengan ini maka CIPSI turut melestarikan karya-karya besar
filsafat/mistik/teologis yang sulit sekali diperoleh dan terancam punah kalau tidak ada
usaha-usaha sadar dan terencana untuk melestarikannya.

(2) Proyek Pernerjemahan Serial. Menyadari bahwa orang-orang Indonesia tidak bisa secara
umum diharapkan dapat mengerti bahasa Arab dengan baik, maka merupakan suatu
keharusan, dalam rangka mengembangkan filsafat Islam di negeri ini, untuk
menerjemahkan karya-karya utama tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Sampai saat ini
CIPSI baru berusaha menerjemahkan sebuah karya inseklopidia dari Ikhwan al-Shafa’ yang
berjudul Rasa’il Ikhwan al-Shafa’. Karya ini memiliki 4 jilid rata-rata 400 halaman, dan
diterjemahkan oleh empat orang penerjemah yang masing-masing menerjemahkan satu
jilid. Jilid pertama dari karya ini membahas tentang matematik (aritmatik, geometri, musik
dan astronomi), dan juga logika. Jilid kedua membahas tentang fisika (meliputi topik
materi dan bentuk, ruang, waktu dan gerak), juga tentang minerologi, botani,, zoologi, dan
astronomi. Jilid ketiga, berkenaan dengan psikologi, dan keempat berkenaan dengan
agama. Hingga saat ini penerjemahan telah mencapai sekitar 40 %. Adapun karya lain yang
tengah dipersiapkan untuk penerjemahan berikutnya adalah al-Shifa karya Ibn Sina, yang
meliputi semua cabang ilmu dan memiliki 10 jilid. Dipilihnya karya-karya yang bersifat
ensiklopedis ini dimaksudkan sebagai contoh yang kongkrit dari model sains Islam
sebagaimana yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim dulu bagi orang-orang
modern.
(3) Database Biografis dan Bibliografis. Selain kegiatan di atas CIPSI juga telah membuat
database berkenaan dengan nama-mana para filosof/ilmuwan Muslim, biografi dan karya-
karya filosofis mereka. Dari pendataan ini, maka hingga saat ini CIPSI telah memiliki daftar
sebanyak 800 orang filosof/ilmuwan, dan memiliki daftar karya filosofis sebanyak lebih dari
2000 karya filsfat dalam berbagai cabang ilmu. Tapi jumlah ini itupun baru diidentifikasi
dari 40 filosof, padahal kita memiliki sekitar 800 filosof, sehingga seiring dengan waktu,
kita sangat potensial untuk memperpanjang daftar karya ini hingga mencapai puluhan atau
ratusan ribu karya. Dan karya-karya inilah yang akan kami usahakan mengoleksinya sehingga
CIPSI diperkirakan akan mengoleksi puluhan atau bahwa ratusan ribu karya filsafat Islam di
perpustakaannya.
(3) Kegiatan berikutnya adalah menyelenggarakan kajian-kajian/diskusi/seminar baik yang
bersifat intern maupun ekstern. Untuk kajian intern CIPSI menyelenggarakan kajian-kajian
intensif tentang beberapa isu yang hangat dan relevan dengan perkembangan zaman
seminggu sekali. Sementara ini materi kajian intern diambil dari buku saya yang segera
akan terbit Nalar Perenial: sebuah Respons terhadap Modernitas. Berbagai isu kontemporer
didiskusikan, seperti tentang Islamisasi Ilmu, masyarakat madani, posisi wanita, tentang
evolusi, pengaruh mistisisme atas fisika baru dan tentang etika lingkungan. Diskusi ini
dimaksudkan sebagai upaya untuk menjawab tantangan-tangan kontemporer dari perspektif
filsfat Islam. Adapun kajian ekstern, telah dilakukann di Mesjid Baitul Ihsan B.I. dengan
tema Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam. Seminar ini dimungkinkan berkat kerjasama CIPSI
dengan BI. Seminar enam kali pertemuan ini disemarakkan oleh pemikir-pemikir terkemuka
negeri ini yang menjadi pembanding saya dalam setiap pertemuannya. Beberapa seminar
juga telah direncanakan dan kerjasama dengan lembaga lain juga telah digalang.
Selain kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan di atas, CIPSI juga telah memetakan bebrapa
lahan potensial untuk penelitian-pemelitian intensif filsafat Islam di Indonesia di masa
depan. Dan itu akan meliputi peneltian di bidang biografis, gnomologis, sains Islam, filsafat
perenial dan filsafat Islam paska Ibn Rusyd. Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan ini CIPSI
akan memberi sumbangan yang signifikan dan menentukan bagi perkembangan dan masa
depan filsafat Islam di negeri ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar